Selasa, 11 Februari 2014

Hutanku Surgaku


HUTANKU SURGAKU
Ikan-ikan berenang di sungai dengan gemercik air yang jernih.  Burung-burung berkicau di antara dahan pohon yang rindang. Beberapa ekor kambing milik peternak memakan hijaunya rumput di padang ilalang. Seekor tupai di atas pohon kelapa dan bersiap menikmati buah kelapa. Sebuah surga kecil di muka bumi yang harmoni.
Puluhan tahun silam, kami  dapat dengan mudah menikmati suasana alam yang begitu alami. Sebuah situasi yang benar-benar kami rindukan. Situasi yang membawa kami pada ketenangan jiwa. Keharmonisan alam dimana interaksi antara manusia, hewan dan tumbuhan. Interaksi ketiga komponen tanpa merusak salah satu dari komponen tersebut. Namun, situasi seperti itu saat ini bukan menjadi hal yang mudah kami dapatkan. Teringat salah satu culikan lagu dari musisi legendaris Indonesia Iwan Fals dengan judul “Ujung Aspal Pondok Gede”.
Di depan mesjid, samping rumah wakil pak lurah..
Tempat dulu kami bermain, mengisi cerahnya hari..
Namun sebentar lagi, angkuh tembok pabrik berdiri..
Satu-persatu sahabat pergi, dan tak kan pernah kembali..
Kondisi kini dengan cepat berubah tanpa terkendali. Hutan yang dulu menyimpan kekayaan ragam hayati, kini berubah menjadi lahan yang dikelola dengan tujuan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Bagaimana nasib para penghuni hutan tersebut? Bagaimana tanggung jawab kita terhadap keberlangsungan penghuni hutan? Sebuah pertanyaan yang kadang terabaikan.    
Hutan yang menyimpan jutaan energi yang dibutuhkan oleh makhluk hidup di muka bumi.  Hutan menyimpan sejumlah besar karbon yang juga berkontribusi pada perubahan iklim. Hutan menyimpan hampir 300 miliar ton karbon (biomass) kira-kira 30 kali jumlah emisi tahunan yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Tapi ketika hutan dihancurkan, karbon ini dilepaskan ke atmosfir.[1]
Hanya dalam beberapa tahun, ratusan ribu hektar lahan hutan di muka bumi ini hancur. Jutaan spesies mati, bahkan beberapa diantaranya terancam punah. Kebijakan-kebijakan pemerintah kadang justru melegalkan mereka untuk terus menghancurkan hutan. Sehingga setiap tahun pula kerusakan hutan terus meningkat. Dari kecil kita selalu diajarkan untuk menjaga hutan, karena hutan sebagai paru-paru dunia. Bisa dibayangkan apabila dunia ini tanpa paru-paru. Bukan hanya tumbuhan dan hewan tetapi juga keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini terancam.  
Tidak dapat dipungkiri bahwa banjir, tanah longsor, kekeringan yang berkepanjangan beberapa tahun silam ini merupakan beberapa contoh nyata dampak dari kerusakan hutan. Rendahnya kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan pada akhirnya menjadi bumerang bagi diri sendiri. Alam yang mulai tak bersahabat dengan manusia memperlihatkan kemurkaannya.  Sebuah peringatan yang sebenarnya perlu kita renungkan..
Dengan kejadian tersebut yang sebenarnya memberikan gambaran betapa pentingnya hutan demi menjaga keseimbangan alam. Kita secara bersama-sama harus memiliki niat dan upaya untuk menghindari semakin meluasnya kerusakan hutan. Seperti pepatah mengatakan “mencegah lebih baik dari pada mengobati”, kerusakan hutan pun juga begitu, sangat sulit untuk dipulihkan kembali. Butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk mengembalikan kondisi hutan yang rusak seperti semula.
Maka dari itu, kondisi hutan yang masih utuh dan alami jangan sampai mengalami nasib yang sama dengan hutan-hutan yang kondisinya kritis. Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mendapat getah pahit dari apa yang kita lakukan sekarang. Jangan sampai mereka tidak pernah melihat ikan-ikan yang berrenang di sungai dengan air yang jernih. Mendengar kicauan burung yang merdu di pohon yang rindang. Melihat tupai menikmati santapannya di atas pohon kelapa. Serta keharmonisan alam dengan hutan yang masih terjaga kealamiannya. Marilah kita bersama-sama tetap semangat Protect Paradise, agar anak cucu kita kelak tetap bisa menikmati indahnya surga kecil di bumi ini. (yra)


[1] www.greenpeace.org/seasia/id/blog/pentingnya-sebuah-pohon/blog/47925/ , akses tgl. 11 Februari 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar