HUTANKU
SURGAKU
Ikan-ikan
berenang di sungai dengan gemercik air yang jernih. Burung-burung berkicau di antara dahan pohon
yang rindang. Beberapa ekor kambing milik peternak memakan hijaunya rumput di
padang ilalang. Seekor tupai di atas pohon kelapa dan bersiap menikmati buah
kelapa. Sebuah surga kecil di muka bumi yang harmoni.
Puluhan
tahun silam, kami dapat dengan mudah menikmati
suasana alam yang begitu alami. Sebuah situasi yang benar-benar kami rindukan. Situasi
yang membawa kami pada ketenangan jiwa. Keharmonisan alam dimana interaksi
antara manusia, hewan dan tumbuhan. Interaksi ketiga komponen tanpa merusak
salah satu dari komponen tersebut. Namun, situasi seperti itu saat ini bukan
menjadi hal yang mudah kami dapatkan. Teringat salah satu culikan lagu dari
musisi legendaris Indonesia Iwan Fals dengan judul “Ujung Aspal Pondok Gede”.
Di depan mesjid, samping rumah
wakil pak lurah..
Tempat dulu kami bermain, mengisi cerahnya
hari..
Namun sebentar lagi, angkuh tembok
pabrik berdiri..
Satu-persatu sahabat pergi, dan tak
kan pernah kembali..
Kondisi
kini dengan cepat berubah tanpa terkendali. Hutan yang dulu menyimpan kekayaan
ragam hayati, kini berubah menjadi lahan yang dikelola dengan tujuan untuk
mengumpulkan pundi-pundi uang. Bagaimana nasib para penghuni hutan tersebut?
Bagaimana tanggung jawab kita terhadap keberlangsungan penghuni hutan? Sebuah
pertanyaan yang kadang terabaikan.
Hutan
yang menyimpan jutaan energi yang dibutuhkan oleh makhluk hidup di muka bumi. Hutan menyimpan sejumlah besar karbon yang
juga berkontribusi pada perubahan iklim. Hutan menyimpan hampir 300 miliar ton
karbon (biomass) kira-kira 30 kali jumlah emisi tahunan yang dihasilkan oleh
pembakaran bahan bakar fosil. Tapi ketika hutan dihancurkan, karbon ini
dilepaskan ke atmosfir.[1]
Hanya
dalam beberapa tahun, ratusan ribu hektar lahan hutan di muka bumi ini hancur. Jutaan
spesies mati, bahkan beberapa diantaranya terancam punah. Kebijakan-kebijakan
pemerintah kadang justru melegalkan mereka untuk terus menghancurkan hutan. Sehingga
setiap tahun pula kerusakan hutan terus meningkat. Dari kecil kita selalu
diajarkan untuk menjaga hutan, karena hutan sebagai paru-paru dunia. Bisa
dibayangkan apabila dunia ini tanpa paru-paru. Bukan hanya tumbuhan dan hewan
tetapi juga keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini terancam.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa banjir, tanah longsor, kekeringan yang berkepanjangan
beberapa tahun silam ini merupakan beberapa contoh nyata dampak dari kerusakan
hutan. Rendahnya kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan pada
akhirnya menjadi bumerang bagi diri sendiri. Alam yang mulai tak bersahabat
dengan manusia memperlihatkan kemurkaannya.
Sebuah peringatan yang sebenarnya perlu kita renungkan..
Dengan
kejadian tersebut yang sebenarnya memberikan gambaran betapa pentingnya hutan
demi menjaga keseimbangan alam. Kita secara bersama-sama harus memiliki niat
dan upaya untuk menghindari semakin meluasnya kerusakan hutan. Seperti pepatah
mengatakan “mencegah lebih baik dari pada mengobati”, kerusakan hutan pun juga
begitu, sangat sulit untuk dipulihkan kembali. Butuh puluhan bahkan ratusan
tahun untuk mengembalikan kondisi hutan yang rusak seperti semula.
Maka
dari itu, kondisi hutan yang masih utuh dan alami jangan sampai mengalami nasib
yang sama dengan hutan-hutan yang kondisinya kritis. Jangan sampai anak cucu
kita kelak hanya mendapat getah pahit dari apa yang kita lakukan sekarang.
Jangan sampai mereka tidak pernah melihat ikan-ikan yang berrenang di sungai
dengan air yang jernih. Mendengar kicauan burung yang merdu di pohon yang
rindang. Melihat tupai menikmati santapannya di atas pohon kelapa. Serta keharmonisan
alam dengan hutan yang masih terjaga kealamiannya. Marilah kita bersama-sama tetap semangat
Protect Paradise, agar anak cucu kita
kelak tetap bisa menikmati indahnya surga kecil di bumi ini. (yra)
[1]
www.greenpeace.org/seasia/id/blog/pentingnya-sebuah-pohon/blog/47925/ , akses
tgl. 11 Februari 2014.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar